Sabtu, 23 Agustus 2014

Menentukan Harga Produk Handmade Secara Amatir (1) : Prakata

Sebelumnya, minta maaf banget buat para crafter senior yang sudah lama berkecimpung di dunia per-handmade-an, dan sudah memiliki formula supermaknyus untuk memberi harga produknya. Bukan maksud saya buat sok tau atau sok gaya. Tapi saya hanya sekedar pengen berbagi apa yang saya lakukan kepada semua teman senasib sepenanggungan yang dibuat ragu dan sering pula gak pede sama sekali untuk memberi harga pada produk amatirnya.

Apa yang akan saya jelaskan berikut, murni berdasarkan pengetahuan saya yang terbatas tentang bagaimana menjual produk handmade selama ini berdasarkan harga bahan, upah, dan bagaimana margin keuntungan ditentukan.

Banyak yang mengatakan bahwa harga produk handmade itu unik jadi kita bisa memberi harga suka-suka kita. Mau dinaikin 100% atau lebih juga no problemo. Karena memang unik, beda, idenya orisinil, bla...bla...bla...

Tapi benarkah begitu?
Buat saya kok statement kayak gitu kok ya belum saatnya saya terapkan. Karena saya juga masih baru belajar juga produk juga nggak bagus-bagus amat, masih banyak yang lebih keren dari saya. Orisinil? Hmm... saya agak malu dengan kata ini. Soalnya ya, kalau saya cari inspirasi itu seringnya buka-buka majalah Handmade Cotton Life, Cotton Time, Cotton Friend, etc...
Belum lagi ke Pinterest, Craftgossip, lickr, Tumblr dlsb...
Dan... saya seringkali 'terinspirasi' dengan apa yang saya lihat. Entah itu model tutupnya dimensinya, motif kainnya, dan lain-lain. Hasil comot sana-sini yang saya sesuaikan dengan kemampuan dan bahan yang tersedia, dan menjadi produk handmade made in saya :D

Apakah itu orisinal? Hehehehe... nggak mau jawab ah. Maluuuu.... *ngumpet di balik pintu sambil baca komik*

Intinya... buat saya, produk handmade itu masih bisa diberi harga dengan rambu-rambu yang pasti kok, nggak melulu tak terdefinisikan. Saya nggak bisa bilang produk handmade harganya berdasarkan rasa atau seni. Saya bukan orang seni, bukan seniman, jadi nggak tau bagaimana menominalkan sebuah rasa. Tapi saya berusaha berkarya memberi sedikit kebahagiaan buat orang yang beli produk saya dengan memberi harga sebagai pengganti bahan, waktu, dan jerih payah saya secara semestinya, menurut saya.

Bingung? Saya juga kok wkwkwkwkwkwk #ditendang

Oke, sebelum saya mulai melantur nggak karuan untuk melampiaskan hobi menulis saya yang lama tak tersampai, akan saya mulai aja ya...

Untuk membuat sebuah contoh perhitungan, saya memang perlu sebuah contoh kasus. Jadinya saya membuat sebuah jenis produk yang simple cepet, namun bisa merepresentasikan apa yang akan saya sampaikan.

Yaitu... membuat pouch.
Wkwkwkwkkwkwk... Kaget? Jangan kaget. Meski pouch itu super simple, tapi buat bkinnya tetep butuh kain butuh tangan butuh waktu nggak bisa nongol hanya dengan dibatin.
Xixixixi..

Gak papa deh. Kalau mau skip bagian tutrialnya nggak papa toh saya juga nggak tau hhihi..

Tanpa basa-bas lagi yuukkk... mari....
Kita ke Bagian 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar